Purabaya Sukabumi, Lumbung Pangan yang Menyulam Kekuatan Ekonomi Kreatif dari Desa

Berita, Sukabumi2541 Views

cyberaliansinews.com – Sukabumi, Di balik hamparan sawah yang membentang luas, Kecamatan Purabaya tidak hanya dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras dan palawija, tetapi juga tengah tumbuh sebagai pusat Industri Kecil Menengah (IKM) berbasis kearifan lokal yang terus berkembang.

Dengan luas wilayah sekitar 10.498,145 hektare dan jumlah penduduk mencapai 43.147 jiwa (data 2022), wajah ekonomi Purabaya masih didominasi sektor pertanian. Sekitar 70 persen masyarakat menggantungkan hidup sebagai petani, sementara sisanya bergerak di sektor perdagangan, swasta, hingga wirausaha mandiri. Namun, di balik dominasi agraris tersebut, geliat ekonomi kreatif mulai memperlihatkan peran strategis.

Purabaya terdiri dari tujuh desa, yakni Desa Purabaya, Neglasari, Cicukang, Citamiang, Margaluyu, Pagelaran, dan Cimerang. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Sagaranten di selatan, Jampangtengah di barat, Nyalindung di utara, serta Curugkembar di timur—membentuk kawasan yang strategis untuk distribusi hasil pertanian maupun produk lokal.

Yang menarik, kekuatan Purabaya kini tidak hanya terletak pada sektor pangan. Sejumlah desa mulai menonjolkan potensi khasnya. Di Desa Cimerang, misalnya, tradisi membatik tetap bertahan dan berkembang melalui batik tulis khas Purabaya yang memiliki motif unik bernuansa alam pedesaan. Produk ini perlahan menembus pasar luar daerah dan menjadi identitas baru bagi wilayah tersebut.

Sementara itu, Desa Neglasari dan Citamiang dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu yang memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga hingga produk dekoratif. Di Desa Pagelaran, kerajinan berbahan serat ijuk turut berkembang, menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Tak kalah penting, sektor olahan pangan juga menjadi penopang ekonomi masyarakat. Produksi gula merah aren serta aneka makanan ringan tersebar hampir di seluruh desa, menjadi sumber penghasilan tambahan yang signifikan bagi warga.

Seorang pelaku usaha lokal menyebutkan bahwa potensi ini masih sangat terbuka untuk dikembangkan. “Kalau didukung pemasaran dan pelatihan, produk Purabaya bisa lebih dikenal luas. Kami punya bahan baku, punya keterampilan, tinggal penguatan saja,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Purabaya tengah bergerak dari sekadar wilayah agraris menuju kawasan dengan diversifikasi ekonomi berbasis potensi lokal. Perpaduan antara pertanian, kerajinan, dan industri rumahan menjadi fondasi kuat dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Dengan penguatan pada sektor IKM dan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, Purabaya berpeluang besar menjadi contoh kecamatan yang berhasil mengintegrasikan sektor tradisional dengan ekonomi kreatif modern—tanpa meninggalkan akar budayanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *